Diposting pada June 7, 2009 | Awan: Renungan | oleh : sunu wibirama.
Sebuah nasihat yang cukup padat dan tajam dari seorang ulama Indonesia, yang namanya telah mengharumkan jagad persilatan da’wah di negeri ini. Sebuah nasihat untuk mengingat kembali, bahwa kebangkrutan bangsa muncul dari sikap rendah diri dan kerja-kerja perbaikan yang parsial. Mengingatkan kita untuk menjauhi prinsip “waton mbathi”, “waton entuk kursi”, “waton entuk menteri”, dan “waton sugih dewe” meskipun mengatasnamakan ummat Islam. Semoga kelak kita bisa memilih pemimpin yang benar-benar bertumpu pada ekonomi kerakyatan, bukan menjanjikan kebahagiaan semu dengan utang IMF. Naudzubillahi min dzalik.
Oleh : (Alm) K.H. Rahmat Abdullah
hal.61, Warisan Sang Murobbi, Tarbawi Press
Banyak orang yang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah. Namun sayang mereka tak pernah merasa defisit apapun padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan tersebut : “Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
Sekarang segelintir elit di masyarakat muslim, bukan lagi membanggakan dengan nisbah Islam dan masa lalu umat. Mereka justru telah menampakkan dengan terbuka kebanggaannya menjauh dari orisinallitas (asholah) Islam.Berapa banyak mayoritas awam yang menolak syari’at Islam? Mungkin nol, yang ribut cuma elit dan agen fasad. Karenya bukanlah kerja produktif, bila agenda islah (perbaikan) hanya ditujukan pada kekuasaan dan tokoh rezim, terlebih bila rezim itu sendiri sudah memiliki kriteria rajim (terkutuk). Perubahan yang dituju oleh islah Islam adalah perubahan kultural, tanpa mengabaikan faktor kekuasaan, karena memang sangat jelas daya hancurnya bila ia jatuh ke tangan-tangan kotor.
Tak ada yang lebih mulia dan memenuhi tahapan-tahapan islah yang benar, kecualli bila setiap agen perbaikan itu memikirkan peningkatan dirinya, kemudian keluarganya dan masyarakatnya. Kezaliman di masyarakat telah terjadi dan terus menerus selalu akan terjadi bila umat tak berdaya dan membiarkan kezaliman atas diri mereka. Bila prajurit semacam Ribl bin Amir telah tampil begitu meyakinkan di hadapan Hirqal (Hercules) dan Rasulullah membiarkan keterusterangan seorang Badui daripada rakyat ketakutan menuntut haknya, maka maknanya kerja da’ wah harus mengarah kepada pembebasan dan pemberdayaan semua elemen umat.
Siapa yang bertanggung jawab atas larinya triliunan dana bangsa Muslim yang miskin ini, hanya karena mereka rendah diri lalu berfikir makanan junk food dengan iklan menyesatkan itu baik untuk mereka? Siapa yang bertanggung jawab atas bangkrutnya usaha mereka sendiri, karena iklim ta’awun tidak tumbuh dan sikap saing percaya tak ada lagi. Akibatnya, alih-alih dari tumbuhnya usaha syarikat umat, mereka terpaksa pergi ke bank-bank riba, untuk meminjam atau menabung. Maka jadi semakin ekstrimlah seruan pembelaan dan solidaritas dari seorang Hasan Al Banna di telinga manusia modern yang tak kunjung memetik apapun dari obsesi-obsesi kosong mereka :
“Perhatikan benar perekonomian bangsamu. Jangan mengkonsumsi dan memakai kecuali dari produk negeri Muslimmu”
» Diposting pada awan Renungan. Artikel lainnya pada awan ini:
June 7th, 2009 at 2:01 pm
kalau mau, jangan hanya produk saja dong yang diboikot. pemikiran, budaya, sistem politik partai, demokrasi, dan lain-lain yang bukan dari Islam juga diboikot