Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-includes/theme.php on line 576

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-content/plugins/slickr-gallery/slickr.php on line 565
[Cerdas-Terampil-Taqwa] » Blog Archive » Genre Film Inspiratif ala “Laskar Pelangi” Dimulai - Sunu Wibirama

Genre Film Inspiratif ala “Laskar Pelangi” Dimulai

Diposting pada June 20, 2009 | Awan: General Thought, Having Fun | oleh : sunu wibirama.

Tahukah Anda tentang film Laskar Pelangi yang dibuat berdasarkan novel pertama dari tetralogi novel karya Andrea Hirata? Kalo belum tahu, sebaiknya Anda mulai nonton dan baca novelnya. Novel “tak sengaja dicetak” yang inspiratif ini bahkan telah menyadarkan seorang pecandu narkoba. Hanya karena baca novel, ia berkeinginan untuk lepas dari jeratan narkoba. Di Jogja, ribuan murid dan guru SD dan SMP Muhammadiyyah terpanggil untuk menonton film ini. Saat saya nonton di Amplaz (baca : Ambarukmo Plaza, Teater 21) Jogja, November 2008 kemarin, isak tangis seorang kakek pun terdengar nyaring. Di belakang saya, anak-anak SD menutup hidungnya dengan sapu tangan, juga karena menangis. Ayah saya, tak urung ikut terharu, meskipun hanya nonton DVD tidak resminya. Di akhir film beliau berujar, “Wah, kalau mau jujur, sekolah yang seperti itu (*reyot, rusak), tidak hanya di Belitung saja. Bahkan di Jawa sendiri masih banyak.”

Apa yang membuat film itu begitu spektakuler? Padahal, di dalam film itu tak pernah kita jumpai gaya hidup mewah dan mobil-mobil mercy seperti yang kita lihat di sinetron Indonesia. Juga tak pernah ada adegan seorang anak memaki orang tua atau pembantu rumah tangga. Juga tak ada adegan percintaan seru dan saru, yang sering bikin penonton berteriak histeris terbawa mimpi. Jawabannya adalah : INSPIRATIF. Kata yang satu ini rupanya mudah ditangkap oleh para sineas kita. Para sineas kita pun paham, bahwa “anak-anak” adalah bahasa universal. Maksudnya, jika film itu bercerita tentang anak-anak, maka orang tua pun bisa ikut menonton. Bahkan sampai kakek nenek pun berduyun-duyun melihat layar lebar. Tapi film dewasa, dalam hal ini menampilkan adegan kekerasan, action, atau apapun yang hanya bisa dicerna oleh otak baligh, belum tentu bisa ditonton oleh anak-anak. Para sineas kita sadar betul. Film anak-anak yang tidak kekanak-kanakan menjadi genre baru saat ini. Tentu ini dipicu oleh suksesnya Laskar Pelangi di Indonesia dan di berbagai negara di dunia. Ditambah lagi, Indonesia adalah bangsa latah. Mau bukti ? Film pocong dan kuntilanak dengan segala macam versinya pun pengaruh dari budaya latah ini. Kemudian film religi yang marak di layar lebar juga hasil dari kebaikan bangsa yang latah ini. Maka, budaya latah ini disulap menjadi sebuah peluang emas untuk melahirkan film-film baru, yang saya yakin, pasti akan best seller pula seperti Laskar Pelangi.

Adalah dua film baru, Garuda Di Dadaku dan King. Film yang pertama berkisah tentang Bayu yang duduk di SD kelas 6. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang pemain sepak bola profesional. Meskipun ia dilarang berlatih oleh Pak Usman, kakeknya, yang menganggap pemain bola tidak memiliki masa depan jika ia cedera, tapi bayu tetap berlatih diam-diam. Ia berlatih di gang-gang sempit seputar rumahnya, hingga kuburan pun ia jadikan tempat berlatih. Kesempatan pertama pun datang, ia ditawari untuk bergabung dalam Sekolah Sepakbola (SSB) Arsenal. Dari sinilah, berita tentang seleksi Tim Nasional U-13 (Under 13 Years Old) diperoleh Bayu. Akhirnya, impian bayu untuk memakai baju tim nasional Indonesia tercapai, saat ia lolos seleksi Tim Nasional U-13. Film yang disutradari oleh Ifa Isfansyah langsung mencetak rekor dengan terjual habisnya tiket pada hari pertama (www.garudadidadaku.com). Di sisi lain, tak tanggung-tanggung, produser dan seluruh awak film melakukan road show besar-besaran di Indonesia untuk membantu promosi film ini.

Film yang kedua, berkisah tentang seorang anak desa bernama Guntur yang ingin menjadi seorang juara bulutangkis. Ia sangat terinspirasi oleh pemain andalan Indonesia : Liem Swie King, yang kondang dengan smash terbangnya itu. Ayah Guntur adalah seorang pecinta bulu tangkis, komentator bulu tangkis antar kampung, sekaligus pengumpul bulu angsa yang akan dijadikan shuttlecock. Ia sangat mengharapkan Guntur menjadi seorang pemain hebat dan ia memompa semangat anaknya supaya sanggup latihan fisik berjam-jam. Dengan penuh semangat, ia berjuang untuk meraih cita-citanya dan menjadi juara dunia bulu tangkis kebanggaan Indonesia, seperti Liem Swie King, idola keluarganya. Film yang dibesut oleh Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale ini memang ditujukan untuk mengenang juara dunia Indonesia Liem Swie King sekaligus memberikan semangat generasi muda Indonesia untuk berprestasi di bidang olah raga. Ari adalah seorang sutradara yang khas. Jauh sebelum Laskar Pelangi besutan Riri Riza dan Mira Lesmana tayang, ia sudah membuat film Denias yang bercerita tentang perjuangan anak di Papua untuk bersekolah dan mengenal wilayah Indonesia secara geografis. Film bertema anak-anak sepertinya menjadi ciri khas Ari Sihasale. Dalam film Garuda Di Dadaku pun ia turut ambil peran menjadi pencari bakat dan pelatih SSB Arsenal yang melihat potensi Bayu.

Inikah awal genre film inspiratif dimulai? Wallahu a’lam. Yang jelas, bangsa ini masih butuh semangat-semangat dan figur yang mampu mengangkat martabat bangsa. Di tengah janji-janji manis para politikus untuk menyejahterakan rakyat, film ini seperti menjadi oase segar untuk sedikit melupakan kebisingan politik para kontestan pilpres-sung 2009.

Salam,

(Sunu Wibirama)

» Diposting pada awan General Thought, Having Fun. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » 3 Idiots: Mengupas Makna Pendidikan Yang Sebenarnya
  • » Just post your links to your own page
  • » Wai Khru : Cara Thailand Menghargai Guru
  • » My Ebook was cited !
  • » Konferensi Internasional Wayang di UGM
  • » Pesan Politis Paman Sam dalam Transformer 2
  • » Kisah MasDab dan Blog Peliharannya
  • » Pesta Blogger 09
  • Satu komentar to “Genre Film Inspiratif ala “Laskar Pelangi” Dimulai”

    1. lekdjie Berkomentar:

      ngentosi peleme pak habibi ingkang saged damel mongtor mabur pakdhe…

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya