Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-includes/theme.php on line 576

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/wibirama/public_html/wp-content/plugins/slickr-gallery/slickr.php on line 565
[Cerdas-Terampil-Taqwa] » Blog Archive » Zona Nyaman dan Zona Aman - Sunu Wibirama

Zona Nyaman dan Zona Aman

Diposting pada June 21, 2009 | Awan: General Thought, Motivation | oleh : sunu wibirama.

Saya pernah ikut sebuah training pengembangan diri. Bahkan dari materi-materi training itu pula, saya dulu pernah membina remaja-remaja kampung yang putus sekolah dan kurang mampu supaya mereka menjadi lebih optimis memandang hidup. Dalam training itu, kita sering diseru untuk keluar dari “Zona Nyaman”. Zona nyaman (comfortable area) adalah istilah trainer untuk menggambarkan kemalasan dan kelembaman seseorang untuk maju. Biasanya, orang kalau sudah pas atau sudah mapan dengan sesuatu, ia enggan mencoba sesuatu yang lain. Sesuatu ini bisa mewakili banyak hal. Bisa mewakili pendapatan, bisa mewakili aktivitas kita, bisa mewakili rutinitas, bisa mewakili ide atau cara berpikir, bahkan sampai yang ekstrim seperti harta dan kedudukan. Ini pula yang kemudian berusaha didobrak oleh trainer-trainer itu dengan segudang yel-yel dan segambreng game-game fantastis. Mulai dari menara manusia sampai rebutan sepatu dan sandal yang diobrak-abrik jadi satu, semuanya berusaha untuk menggambarkan ide besar dari “out from comfortable area”. Jika kita berhasil keluar dari zona nyaman, kata si trainer itu lantang, kita akan menjadi manusia baru yang dipenuhi dengan ide-ide brilian (”ah, tenane pak?” — sekarang saya berani bertanya demikian).

Zona nyaman. Orang seringkali berkata, keluar dari Zona nyaman itu tidak mudah. Ya benar, apalagi jika ternyata ia sekaligus keluar dari Zona Aman. Bagi seorang PNS dibawah golongan IV misalnya, zona nyaman mereka adalah gaji yang pasti setiap bulannya, meskipun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari barangkali perlu memutar otak. Zona nyaman inilah yang membuat mereka terpaksa untuk korupsi waktu, karena kadang tidak semua PNS berani korupsi uang. Nyambi sana, proyek sini, riset itu, penelitian anu dan sebagainya. Pokoke, piye carane urip nganggo duit halal (pokoknya bagaimana caranya bisa hidup dengan uang halal — kata orang Jawa). Sebab, bagi PNS, keluar dari zona nyaman alias murtad sebagai PNS sama saja dengan membuat masalah baru. Apalagi jika ia tidak memiliki modal cukup dan skill khusus untuk berdikari atau berwiraswasta. Maka, teori sang trainer itu pun terbantahkan. Apa benar, si trainer mau membantu jika si PNS ini keluar dari ke-PNS-annya dan mondar-mandir mencoba berwirausaha? Belum tentu. Mungkin solusinya hanya Manajemen Qalbu (maksudnya banyak optimis dan sabar)….

Bagi seorang bawahan misalnya (entah itu karyawan perusahaan yang bonafid, atau anak buah di satuan militer, anak buah di sebuah struktur perkantoran birokrasi, atau bahkan yang paling eksklusif sekalipun seperti anak buah di struktur parpol), keluar dari zona nyaman belum tentu bisa diartikan keluar dari zona aman. Bagi seorang karyawan perusahaan yang bonafid, zona nyaman mereka adalah segudang cara halal yang bisa menunjukkan secara visual kalau mereka sibuk bekerja saat bos sedang inspeksi. Entah dengan mengobrak-abrik meja kerja, membuka buku agenda, membuka aplikasi excel dan word bersamaan, sampai pura-pura cek email atau telepon rekanan kerja. Pokoknya kelihatan sibuk dan kerjaan beres, bonus pasti ada dan pujian mengalir. Itu adalah zona nyaman mereka dan ini harus kita maklumi karena kulturnya memang demikian. Karena keluar dari zona nyaman belum tentu keluar dari zona aman. Apalagi kalau bos mereka adalah orang yang tak mau tahu alasan anak buahnya. Bisa repot sampeyan kalo coba-coba ikut kata si trainer itu.

Bagi seorang anak buah di satuan kemiliteran, zona nyaman dan aman mereka adalah tidak pernah mengatakan “tapi” dan selalu mengatakan “siap komandan”. Kalaupun ingin usul, maka harus mengacungkan tangan dan tetap tidak meninggalkan “siap komandan”-nya yang khas itu. Patuh di militer lain dengan patuh sebagai karyawan. Jika tidak terima dan tidak nyaman, silahkan desersi dan masuklah ke instansi lain. Itulah pilihannya. Maka, sekali lagi, keluar dari zona nyaman itu bisa jadi dipandang sinis jika diterapkan di sini. Tiada kreativitas tanpa persetujuan komandan. Jika ingin kreatif jadilah pelukis, jangan tentara.

Untuk seorang birokrat, barangkali hampir sama dengan PNS yang lain. Tapi di Indonesia, birokrat lebih punya waktu luang daripada karyawan perusahaan swasta. Lho, kok bisa? Bisa dong, kan agenda rutinnya Datang-Dobel absen pagi sore-Duduk-Dengar gosip dan televisi-Dendang lagu-Da ..daahh (pulang ke rumah). Plus baca koran dan minum kopi. Nggak semuanya kok. Kalau Anda bukan yang itu, ya ndak usah tersinggung. Kenapa saya ngomong kayak gini? Karena saya dulu sering ‘blusukan’ mengurus surat ini dan itu di instansi pemerintah dan waktu kerja mereka sangat tidak efisien. Ya itu tadi, hanya korupsi waktu saja yang mereka lakukan, karena korupsi uang tidak semua berani melakukan. Bahkan saat saya ngurus KTP saja, “dianggurke” (dicuekin) di luar kantor kelurahan. Padahal yang di dalam cuma baca koran dan ngobrol. Maka, untuk orang-orang ini, zona nyaman mereka sangat tidak terdefinisi alias unlimited package (meniru jargon iklan sebuah kartu seluler Indonesia). Karena unlimited, maka produktifitas rendah. Barangkali teori sang trainer itu sangat sulit dipatahkan di sini karena mereka lebih nyaman dari yang dibayangkan oleh sang trainer.

Bagi seorang kader parpol, zona nyaman mereka jika ada duit. Ya ndak semua sih, tapi yang mengaku ideologis sekalipun akhirnya nyerah juga kalau kerja lembur “moloikatan” (tanpa makan, minum, uang transport. Diambil dari istilah “Malaikat” yang tidak membutuhkan kebutuhan dunia). Biasanya, mereka yang benar-benar ideologis akan menerapkan dalil “keikhlasan” atau “demi revolusi” untuk menambal adrenalin kader-kader parpol itu. Maka, kadang logika politik praktis tidak nyambung jika diterapkan pada orang yang benar-benar ideologis. Apalagi jika “sistem barat” yang dipakai, jelas akan berkubang di daerah abu-abu. Seorang yang mengaku pembela rakyat sekalipun, yang dulu terjun berkeringat, bahkan sampai berdarah-darah bentrok dengan polisi, ketika sudah memasuki “sistem barat” dan kekuasaan sebagai wakil rakyat, suaranya menjadi melempem. Barangkali tenggorokannya tersedak, karena duit rakyat yang ia makan terlalu banyak (contoh : kasus BBM, Exxon, BLBI, dll-dll nya silahkan cari sendiri). Ini tidak terbatas pada mereka yang asal muasalnya “ekstrim kanan” saja (meminjam istilah jaman almarhum sang Guru Bangsa MbahDe Soeharto), tapi yang dari “ekstrim kiri” pun demikian. Sama saja alias “podo wae”. Bagi yang tidak betah, ia memilih PAW (Pergantian Antar Waktu) dengan rekan lain yang nuraninya masih hijau. Mereka kembali terjun ke lapangan, berorasi di panas terik matahari, sampai berdarah-darah membela kehormatan ideologi yang ia pegang erat. Jikalau ia ditanya masalah penghasilan, jawabannya masih sama dengan saat ia belum menjadi wakil rakyat. Ada juga yang tetap tidak menolak berbasah-basah keringat, sambil naik ke atas podium, meskipun ia sudah duduk sebagai wakil rakyat, tapi itu sedikit dan di daerah-daerah saja, dimana kue-kue proyek tidak sefantastis nilainya dibanding di Jakarta Raya. Di Pusat? Wow….jangan harap Bung. Kalau nggak ada pengaruhnya buat suara pemilu, ngapain susah-susah teriak-teriak di jalanan? Mending talk show atau safari politik. Dah dingin, nikmat, diberi applaus meriah lagi. Maka, keluar dari zona nyaman ini sangat-sangat berat. Apalagi jika ia keluar dari zona aman. Padahal bagi seorang wakil rakyat yang berhak menaikkan gaji diri sendiri, zona nyaman mereka berbanding lurus dengan gaji yang diterima. Sedangkan zona aman? Lho, dulu kan mereka bisa hidup sebelum jadi anggota dewan? Oh ya mohon maaf, pembaca. Anda anggota dewan? Kalau iya, jangan malu-malu kelak kalau ada undangan demonstrasi membela rakyat kecil dan memberantas ketidakadilan.Bukan momen pemilu sih, tapi Anda mau kan keluar dari zona nyaman?

Sekali, lagi. Teori zona nyaman itu masih terngiang di otak saya. Saya, kelak mungkin akan menjadi PNS, kalau tiba waktunya, karena saya bekerja di institusi negara. Tapi haruskah saya korupsi waktu? Atau justru selama ini pendapatan sayakah yang sudah dikorupsi oleh pengelola republik ini? Entahlah, pikiran rakyat kecil seperti saya tak seculas para pemain politik itu. Keluar dari zona nyaman itu tidak mudah, tidak semudah membuat menara manusia, berebut kumpulan sepatu dan sandal, atau sekedar membayangkan ide-ide bisnis baru. Semua tidak mudah dilakukan. “Angel e po’o”, kata orang Tegal. Jika Anda sama sekali bukan PNS, karyawan, TNI, kader parpol atau dengan kata lain Anda adalah wirausahawan ? Tetap tidak mudah, Bung. Zona nyaman dan zona aman Anda adalah menabung, karena Anda tidak tahu kapan Anda bangkrut dan kapan Anda untung. Sepahit apapun kondisi keuangan, menabung tetap perlu. Jauh lebih ketat dari karyawan atau seorang bawahan, karena dengan itulah Anda merasa aman sekaligus nyaman. Lalu apa yang harus dilakukan jika ingin maju, sebagaimana yang diharapkan sang trainer itu ? It’s not the simple one, but it has to be done:

Jaga atau tingkatkan zona aman Anda dan perkecil zona nyaman Anda.
Jangan tinggalkan sama sekali zona nyaman karena setiap manusia, sebesar apapun usahanya untuk hidup, pasti butuh kebahagiaan.

NB : kalau profesi Anda tidak disebut di sini jangan tersinggung lho, ya. Monggo, silahkan didefinisikan sendiri apa zona nyaman dan apa zona aman Anda. Saya sediakan Diagram Venn, supaya enak membayangkannya.

» Diposting pada awan General Thought, Motivation. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Just post your links to your own page
  • » Wai Khru : Cara Thailand Menghargai Guru
  • » Konferensi Internasional Wayang di UGM
  • » Pesta Blogger 09
  • » Genre Film Inspiratif ala "Laskar Pelangi" Dimulai
  • » Call For Paper CITEE 2009
  • » MASA DEPAN BANGSA KULI
  • » ANGKRINGAN
  • 2 Komentar to “Zona Nyaman dan Zona Aman”

    1. branto Berkomentar:

      iki lak web punya sunhu fsrmy kan…

    2. branto Berkomentar:

      mas sunhu fsrmy nggih…

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya