Diposting pada July 8, 2009 | Awan: Care and Share | oleh : sunu wibirama.
Sebuah artikel yang agak serius, MasDab. Sebab aspirasi kita sedang dipertaruhkan lima tahun ke depan. Selamat menyimak !
Pemilihan presiden baru saja kita lalui. Dari hasil perhitung cepat (quick count) beberapa lembaga, pasangan yang kelak akan memimpin sudah hampir pasti bisa ditebak. Ada yang berbangga hati atas hasil pilihannya. Ada yang bersedih karena jagoannya kalah telak. Ada juga yang protes dan mempertanyakan hasil kerja dan jerih payah lembaga-lembaga survey seharian ini. Semua sah-sah saja dilakukan karena memang mereka memiliki kekuatan dan back up dana yang luar biasa besarnya. Hebatnya, para calon pemimpin Indonesia ini kesemuanya adalah muslim (setidaknya menurut KTP mereka) yang seharusnya juga memperhatikan adab-adab seorang muslim terhadap kebahagiaan dan kedukaan yang menghiasi hatinya hari-hari ini.
Dalam sebuah perbincangan di sebuah situs jejaring sosial, beberapa peserta situs itu meneriakkan kegembirannya melalui status profilnya karena jagoan yang dicontrengnya menang. Beberapa lagi mengucap syukur dan bertekad untuk terus bekerja keras setelah ia bergembira karena pilihannya berhasil menang telak atas calon yang lain. Semua kebahagiaan itu sah-sah saja dan tidak ada larangannya dalam undang-undang yang berlaku di negeri ini. Asal tidak melakukan tindak pidana, semua ekspresi itu boleh-boleh saja dilakukan. Namun sebagai seorang muslim, seharusnya tolok ukur melakukan tindakan ini dan itu bukan saja bersumber pada undang-undang bikinan manusia semata. Terlalu naif, bila kita hanya menghamba pada sesama manusia. Dalam konteks hari-hari ini, kita perlu mempertanyakan kembali makna berbangga atas amanah politik yang kita terima, jika kita sekaligus juga menjadi orang yang terlibat langsung di kegiatan politik hari-hari ini. Sudah sedemikian kaburkah hati kita, sehingga kita yang setiap hari membaca atau mendengar lantunan Al Qur’an dan mendengarkan panggilan adzan ini tak lagi peduli pada peraturan Sang Pencipta?
Adalah Kanjeng Nabi SAW, manusia terpercaya yang tetap konsisten mempertanggungjawabkan “hasil kerja” beliau, bahkan beliau pernah memintanya secara langsung di hadapan para sahabat [1]. Suatu hari di Madinah, para sahabat dibuat terdiam saat di tengah pidatonya, Rasulullah meminta kepada mereka agar bisa ada yang merasa dirugikan atau disakiti di masa lalu, membalasnya saat itu juga. Para sahabat bertambah tercengang saat tiba-tiba salah seorang di antara mereka memecahkan keheningan, mengacungkan tangannya, sembari berkata-kata yang intinya ingin membalas Rasulullah. Tentu saja para sahabat kaget, bahkan tak sedikit yang hendak menghalanginya. Tapi justru Rasulullah memerintahkan orang tersebut untuk maju, mendekati beliau. Pemuda tadi berkata, bahwa suatu hari ia pernah terkena lecutan Rasulullah. Beliau tidak mengusut benar tidaknya, tapi justru meminta salah seorang sahabat untuk segera mengambilkan “pecut” agar orang tersebut membalasnya.
Rupanya sahabat yang satu ini tak puas, ia ingin agar Rasulullah membuka bajunya. Ia mengaku bahwa ketika lecut Rasulullah mengenai anggota tubuhnya, ia sedang dalam keadaan telanjang dada. Tak segan-segan Rasulullah membuka bajunya, saat itu juga sahabat tadi merangkul dan mencium tubuh Rasulullah Saw sambil mengatakan bahwa ia sangat mencintainya. Satu-satunya alasan dia meminta orang yang dikaguminya itu membuka baju agar tubuhnya bisa memeluk tubuh suci Rasulullah. Mendapat pelukan seperti itu, beliau bersabda, “Anta ma’a man ahbabta (Anda bersama orang yang anda cintai)”.
“Tapi kita kan bukan Kanjeng Nabi. Iya tho, MasDab? Kita semua adalah jama’ah manusia yang tidak luput dari dosa dan alpa.”
Aah….pernyataan yang benar adanya itu bukan berarti menjadi pembenar atas kelalaian kita. Sering sekali kita berapologi karena kita tak mampu mengakui secara dewasa kelemahan kita. Apalagi jika kita harus bicara pada orang yang secara struktural duniawi lebih rendah dari diri kita.
Di masa-masa ini, amanah politik menjadi sesuatu yang sangat diburu-buru oleh sebagian muslim di negeri ini. Entah dengan dalil agama atau dengan risywah (suap) politik, tujuan mereka adalah menjadi salah satu pemegang dan penentu kebijakan di negeri ini. Padahal sifat malu (bukan memalukan) adalah sesuatu yang musti dimiliki seorang muslim [2].
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari).
Maka, seorang qiyadah (pemimpin) muslim seharusnya memiliki rasa malu saat harus mewakili aspirasi rakyat. Amanah politik berupa bertambahnya kursi menteri dan anggota dewan, seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dibangga-banggakan. Boleh saja melaporkan “hasil perjuangan politik” ini dengan pengandaian “mendapatkan ghonimah (harta rampasan)” dalam perang. Tapi, jihad apakah yang sedang kalian lakukan kalau kalian juga ikut memakan mentah-mentah uang haram (dengan istilah lain : mahar politik, strategic partnership, atau apalah) yang kalian ributkan saat pengajian itu ? Beberapa tuntunan saat mengemban amanah politik sudah beredar luas di dunia maya. Bisa dicari dengan mudah, karena rata-rata harga laptop dan langganan internet hari ini sudah sangat terjangkau untuk mereka yang berani maju menjadi caleg. Salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh K.H. Ali Fikri Noor [3] :
Amanah dalam Islam antara lain meliputi: meletakkan sesuatu pada tempatnya yang pantas, tidak memberikan sebuah jabatan kecuali kepada seseorang yang berhak, dan tidak menyerahkan suatu tugas kecuali kepada seseorang yang selalu berusaha meningkatkan kemapuannya dengan tugas yang diembannya. Kepemimpinan dan tugas pekerjaan di mata agama Islam dipandang sebagai amanah dan ini ditegaskan melalui beberapa pertimbangan, di antaranya sebagaimana dijelaskan pada kisah Abu Dzar dan Rasulullah berikut ini:
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwasanya beliau berkata : “Wahai Rasulullah mengapa anda tidak memberikan saya jabatan ?, beliau mengatakan : “Rasulullah saw lalu meletakkan tangannya di atas pundakku seraya berkata : “Wahai Abu Dzar engkau ini lemah, dan jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi sebuah penghinaan dan penyesalan nanti pada Hari Kiamat, kecuali bagi orang yang memikulnya dengan sungguh-sungguh dan menunaikannya menurut hak-hak yang terdapat di dalam jabatan tsb”, (HR Imam Muslim).
Amanah mengharuskan memilih seseorang yang paling pantas untuk mengemban sebuah jabatan. Jika kita menyimpang darinya dan memilih orang lain karena pertimbangan hawa nafsu atau suka, pertimbangan sogokan dan kekerabatan maka kita – dengan mengenyampingkan orang yang mampu dan pantas dan mengangkat orang yang lemah – telah melakukan sebuah pengkhianatan yang besar. Rasulullah saw menegaskan : “Barang siapa mengangkat seseorang berdasarakan kesukuan atau fanatisme, sementara di sampingnya ada orang lain yang lebih disukai Allah dari padanya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman”, (H.R.Imam Al-Hakim).
Semakin banyak amanah politik yang kita terima, sesungguhnya kita sekaligus juga sedang menabung banyak pertanyaan yang akan disampaikan saat kita dimintai pertanggungjawaban kelak. Apakah kita masih bisa bersenang hati saat kita mengingat kelak kita pun akan menghadap ke sisi-Nya dan menjawab banyak pertanyaan seputar amanah-amanah itu ?
Ah demokrasi. Apa sih demokrasi itu, MasDab ? Sebuah medan perjuangan untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik, atau sebuah jalan untuk membuka proyek baru untuk diri sendiri dan kroni-kroni Sampeyan ? Bertanyalah pada diri Sampeyan masing-masing.
Bahan bacaan :
1. Pertanggungjawaban Pemimpin Sejati
2. Hadits ke-20 Arbain An Nawawi
3. K.H. Ali Fikri Noor, “Serial Akhlaq Muslim: Amanah”
» Diposting pada awan Care and Share. Artikel lainnya pada awan ini: