Diposting pada March 26, 2010 | Awan: Iseng | oleh : sunu wibirama.
Courtesy Perpajakan.Info (ditambah sedikit penyesuaian sesuai dengan realitas)
Suatu pagi, MasDab bersilaturahim ke rumah Pakdhe Sontoloyo, seorang kakek-kakek yang up to date dan gaul abis karena mengikuti perkembangan berita terkini. Tak pernah ada seorang pun yang mengenal nama aslinya, bahkan MasDab sendiri pun tak pernah berani bertanya pada Pakdhe. Julukan “Sontoloyo” muncul karena inilah kata-kata favorit Pakdhe (yang menurut KBBI berarti konyol, tidak beres).
MasDab : “Kulo nuwun, Pakdhe. Ga pergi ngantor tho?”
Pakdhe : “Enggak Mas, lha kan Sabtu kantor libur tho? Sini masuk dulu….tak bikinin kopi ya?”
MasDab : “Matur nuwun, Pakdhe. Ada berita apa hari ini?
Pakdhe : “Owalah, MasDab. Bangsa ini semakin tua semakin tidak dewasa. Baru-baru ini terungkap adanya makelar kasus dalam struktur perpajakan Indonesia“
MasDab : “Iya tho? Tersangkanya siapa, Pakdhe? Pejabat eselon I ya?”
Pakdhe : “Pegawai biasa, Mas. Katanya sih baru Golongan III A. Tapi coba lihat ini, rumah lama dan rumah barunya sangat berbeda. Rumah barunya ini konon dibangun dari duit hasil ngunthet (korupsi) duit pajaknya rakyat Indonesia.
MasDab pun bergegas mengambil surat kabar yang dibaca Pakdhe. Sejenak MasDab tertegun, karena perbedaan rumah lama dan rumah baru itu begitu mencolok. Menurut surat kabar itu, rumah lama seorang tersangka pelaku makelar kasus berinisial GT itu beralamat di Jl Warakas I Gang 23, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Priok, Jakarta Utara. Kondisi rumah lama sangat memprihatinkan, bisa dibilang kurang layak. Lain halnya dengan rumah baru GT. Saat ini GT menetap di sebuah rumah mewah di di kompleks real estate Gading Park View, blok ZE 6 No 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Selain asri dan cukup luas, rumah baru ini terkesan mustahil dibangun dengan gaji PNS golongan III A, bahkan di Jakarta sekalipun.
Rumah Lama
Rumah Baru
MasDab : “Beda yo, Pakdhe. Pegawai golongan III A rumahnya uapik tenaan. Bisa main futsal segala, Pakdhe.”
Pakdhe : “Ha iyo, main futsal nendang ndase rakyat miskin, tho? Pancen sontoloyo tenan!”
MasDab : “Ah jangan marah dulu Pakdhe. Eling jantung, Pakdhe. Tenang saja, masih ada hakim dan jaksa paling adil yang nggak bisa disogok Pakdhe”
Pakdhe : “Siapa itu, mas?”
MasDab : “Lha…..siapa lagi kalo bukan Yang Memberi Hidup, Gusti Alloh. Tenang saja, Pakdhe. Gusti Alloh tidak tidur kok….”
Pakdhe : “Wah ho’oh yo. Makasih, MasDab. Ini kopinya diminum dulu…..keburu dingin.”
MasDab : “Tengkyu, Pakdhe. Mak Nyoss tenan kopinya……”
» Diposting pada awan Iseng. Artikel lainnya pada awan ini:
March 26th, 2010 at 1:19 pm
Pemerintah, penegak hukum seharusnya punya malu. tapi sayangnya tidak. Seharusnya kasus seperti ini mendapat perhatian penuh. tapi sayangnya tidak.
Selamat datang di Indonesia