Pernak-pernik Puasa di Indonesia dan Thailand

Diposting pada September 4, 2010 | Awan: Adventure | oleh : sunu wibirama.

Alhamdulillahirobbil ‘alamiiin, pada Ramadhan kali ini MasDab bisa merasakan kembali berbuka dan sahur bersama di tanah air. Dua tahun penuh, MasDab berkeliaran mengunduh ilmu yang berserakan di negeri Gadjah Poetih, yang terkenal dengan Red Shirt dan Tom Yam-nya. Pada artikel singkat kali ini, MasDab akan coba sedikit membandingkan pernak-pernik puasa di Indonesia dan di Thailand, mulai dari awal puasa sampai lebaran. Ada suka ada duka. Semuanya menjadi pelajaran dan hikmah yang berkesan di hati.

1. Awal puasa: di Indonesia, awal puasa ditentukan oleh sidang isbat MUI (Majelis Ulama Indonesia). Rapat dilaksanakan sebelum maghrib dan biasanya pengumuman bisa kita peroleh sebelum shalat Isya. Artinya, MasDab bisa sholat tarawih lebih awal. Di Thailand, awal puasa ditentukan oleh sidang isbat Chula Ratchamontri (semacam MUI-nya Thailand). Sidang isbat dilakukan lebih malam, sehingga bisa saja MasDab melaksanakan sholat Tarawih jam 9 atau 10 malam.

2. Sahur: di Indonesia lebih terjamin (ha jengals! Hehe). Lebih bervariasi jenis makanannya dan bisa nonton sinergi (sinetron religi) Para Pencari Tuhan dengan lancar tanpa halangan apapun. Di Thailand, yah lebih prihatin-lah. Menu Internet (Indomie-Telur-Kornet) biasanya menjadi menu utama. Malah kadang-kadang hanya Inter saja tanpa net. Pernah juga MasDab agak kelabakan karena lelap tertidur dan bangun jelang imsak. Apalagi room mate MasDab juga ketiduran. Berabe dah!

3. Adzan Subuh dan Imsak: di Indonesia sangat jelas terdengar. Maklum, masjid di mana-mana. Di Thailand, kita mengandalkan software Athan Basic, yang adzan Subuh-nya diatur sesuai dengan garis lintang, garis bujur, dan sudut elevasi lokasi kita. Jikalau kita meleng sedikit, lewat sudah adzan Subuh karena peringatan Imsak tidak terdengar.

4. Acara Religi di TV: di Indonesia, kita melihat semua TV menutup aurat-nya karena Ramadhan menjelang. Bahkan artis-artis yang biasanya ugal-ugalan pun menjadi sedikit lebih terkendali dari keliarannya, karena tuntutan skenario (*meminjam alasan mereka sendiri). Sinetron bertema Ramadhan pun bermunculan, mulai dari Cinta Fitri edisi Ramadhan, Cinta Bertasbih, sampai Cinta-Cinta yang lainnya yang di-setting dengan nuansa Ramadhan. Kultum dan khutbah marak di sana-sini. Ustadz baru bermunculan, dengan busana muslim gaul khas bikinan tenabang (tanah abang) yang laris diburu masyarakat. Di Thailand, acara religi dibatasi saat jelang sahur dan terkadang jelang buka puasa saja. Di luar itu ? “Mai mi phiset,  mendhem na khrab” (ga ada yang spesial, seperti biasa aja).

5. Warung makan: di Indonesia jelas mayoritas tutup, karena pemilik warung pun puasa. Di Thailand? Wow, jangan harap. Warung makan bertebaran, tetap membuka lapak-lapak mereka. Sesekali MasDab menelan ludah melihat Cha Yen (Teh Tarik) yang dituang dengan lantang, atau Khaw Pad (Nasi Goreng) yang diolah sampai memerah, atau Khai Ciaw (Telur Dadar Thailand) yang digoreng sampai jereng. Semuanya berbuah pada latihan sabar. Berat? Jelas!

6. Adzan Maghrib: di Indonesia, tentu jelas terdengar. Senangnya bukan main saat para muadzin mengumandangkan adzan. Di Thailand, jelas kita lagi-lagi sangat terikat dengan software Athan Basic. Cilakanya, MasDab pernah telat berbuka puasa, gara-gara asyik masyuk coding dengan komputer lab (yang tidak memiliki software Athan). Walhasil, MasDab harus grobyakan mengayuh sepeda ke minimarket 7/11 untuk membeli hidangan buka puasa seadanya. Sutyod hreu plaow ?

7. Menu Buka Puasa: di Indonesia, jangan ditanya dah. Rata-rata kita akan menjadi sangat konsumtif saat menjelang buka puasa, yang sebetulnya tidak baik bagi kita. Semua makanan kita beli, mulai dari  korma, kolak pisang, sirup cocktail, sampai dengan roti-roti kecil. Tidak semuanya mampu kita makan, karena orang yang berbuka memang tidak disarankan makan dengan porsi besar. Di Thailand, barangkail MasDab lebih nyunnah karena keterbatasan menu dan makanan. Menu buka puasa rutin adalah teh hangat, atau Milo, dan biskuit Oreo. Maklum, susah cari makanan halal yang siap saji. Menu makan malam biasanya dibeli dari kantin muslim depan kampus, kecuali hari Sabtu dan Ahad. Ya, akhir pekan menjadi ajang peningkatan gizi karena MasDab menjelajah undangan berbuka puasa di Bangkok Pusat, mulai dari undangan di Kedutaan Besar sampai dengan ifthor di Taman Gizi Soi 7 Petchburi Road, Masjid Darul Aman, dan sekitarnya. Makanan-makanan Thai beraneka rasa inilah yang bikin kangen, karena di Indonesia jarang ditemui.

8. Tarawih: di Indonesia, kita bisa melakukan safari Tarawih, sambil sesekali memilih-milih penceramah Tarawih yang menarik dan terkenal. Di Thailand, sholat Tarawih terbatas ala kadarnya. Imam dan makmum tarawih jelas “itu-itu aja”, karena MasDab tinggal bersama tiga orang Indonesia yang lain di kos-kosan. Pernah sesekali MasDab ikut sholat Tarawih di Moslem Club KMITL, bersama dengan rekan-rekan Thailand. Suasana amat menyenangkan dan bersahabat. Sayang, 10 hari terakhir mereka tak lagi mengadakan tarawih karena sibuk mudik ke kampung halaman.

9 Itikaf: di Indonesia kita bisa memilih lokasi itikaf. Untuk rekans yang memang free dari aktivitas kantor, beberapa masjid menyediakan itikaf 10 hari penuh. Di Thailand, lebih terbatas pilihannya. Namun, Sampeyan bisa pergi ke Islamic Center Ramkamhaeng. Cuman pesan saya, bawa jaket tebal dan lotion anti nyamuk jika Sampeyan pengin coba itikaf di sana.

10. Takbiran dan Lebaran: di Indonesia suasana meriah, penuh dengan gema takbir membahana dari masjid dan mushola. SMS pun berdesak-desakan memenuhi telepon seluler kita, membangkrutkan pedagang kartu ucapan lebaran. Lebaran di Indonesia sungguh menyenangkan bagi karyawan dan pekerja kantoran. Cuti dan THR adalah sesuatu yang melengkapi suka cita Ramadhan di tanah air. Di Thailand? Hehe….jangankan cuti. Iedul Fitri tidak libur, bos. Pernah suatu ketika MasDab harus melobi dosen karena ujian kuliah bertepatan dengan Iedul Fitri. Walhasil, pulang Sholat Ied harus kembali berkutat dengan buku pelajaran. Sungguh membosankan! Senangnya, Iedul Fitri diisi dengan tamasya bersama mahasiswa Indonesia. Tahun pertama, liburan Ied ke Floating Market di Amphawa. Takbiran tahun pertama diisi makan-makan di warung Tom Yam Hua Pla (Tom Yam kepala ikan) di Sapan Pinklao (jembatan Pinklao) yang sedaaaap. Tahun kedua, liburan Ied ke Bangsaen. Sebuah kenangan yang tak terlupakan!

Nah, itu dia sepuluh pernak-pernik Ramadhan di Indonesia dan di Thailand. Apapun kondisi kita saat ini, jelas harus kita syukuri. Rutinitas yang terkesan membosankan menjadi sangat berharga bila kita tak lagi menemukannya. Selamat beritikaf, selamat berpuasa! Moga puasa kita tahun ini menjadi puasa terbaik dalam hidup kita.

Allahumma Amiin

^:)^

Ada artikel-artikel lain yang sempat saya torehkan. Bila Sampeyan ingin menengok, bisa dilongok di sini:

Ada juga koleksi foto-foto menarik lebaran di Thailand:

Berbagi dan Peduli:

» Diposting pada awan Adventure. Artikel lainnya pada awan ini:

  • » Jalur Van di Victory Monument Bangkok Thailand
  • » Seputar Evakuasi: WNI dan Kerusuhan Bangkok
  • » Homesick (jilid 2)
  • » Daftar Rumah Makan Halal & Masjid di Bangkok
  • » Imaginary dialogue between Thais and Indonesians : ISLAM
  • » Antara "Yin" dan "Fang"
  • » Video Lomba Pidato Bahasa Indonesia 2009
  • » [Kliping] : Republika Online
  • 6 Komentar to “Pernak-pernik Puasa di Indonesia dan Thailand”

    1. Nasrul Berkomentar:

      Sun,

      beda ceritanya kalau kamu di Bangmod area :-)
      yang jelas buka bersama di masjid selalu ada ^_^

    2. sunu wibirama Berkomentar:

      Hahaha, wah payah ki. Ladkrabang bukan Bangmod bos, hehehe :)

    3. wek Berkomentar:

      wah, artikel’e sangat inspiratif masDab.. tapi sekarang di talad udah banyak makanan halalnya lho… daripada kemaren2 dulu.. :P:P jadi ya lumayanlah..

    4. sunu wibirama Berkomentar:

      @Wek:
      hehehe….bersyukurlah Mbak. Btw, tetep saja Ladkrabang terpencil dari Masjid. Repot kalau pas butuh peningkatan gizi gratis saat Ramadhan, hahaha

    5. today sponge Berkomentar:

      I twittered this..Ubbertwitter…yeah

    6. Mas Tato Berkomentar:

      Loh, aku dulu mendengar adzan kok, tapi di perkampungan di belakang LOTAT
      Adzannya disiarkan lewat HORN di seantero kampung.
      masih di Kampung itu tetapi di seberang jalan, ada Masjid…aq terawih di situ mirip di Indonesia kok, ada yg 24 rokaat ada yang 11 rokaat, uniknya yang milih 24 rokaat pada pulang saat sudah 8 rokaat, nanti dilanjut di malam hari…atau kebalik ya…aq rada lali.
      selain itu juga sholat di Soi7 dan KBRI , jadi imam dan penceramah gonta ganti :D

    Ikut urun rembug di artikel ini

    My Stats


    Add to Technorati Favorites



    Copyright © 2009 [Cerdas-Terampil-Taqwa] Sunu Wibirama. All Rights Reserved | Design: YGoY | Silahkan kutip artikel dengan mencantumkan sumbernya