Jalan Hidup Peneliti

Adventure, Campus Life, Research No Comments »

Alhamdulillah, kemarin conference di Laos sudah dilalui dengan lancar. At least, it’s my first experience to tell other people what’s inside my head in an international atmosphere. It’s not so easy actually, but i’ve done! One thing that will be a must for a researcher, try to explain our work clearly. If you can only work without explaining what your work’s importance is, it seems to be nothing. Segudang pengalaman rasanya merasuk seketika selama 3 hari. Ada satu yang ingin saya ceritakan di sini, selebihnya mungkin nanti bisa menyusul.

Salah satu hal yang harus kita ketahui saat kita mencoba bergabung dalam sivitas akademisi internasional adalah : belajar secara bertahap. Apa maksudnya? Tiap-tiap komunitas akademisi internasional biasanya akan menyelenggarakan pertemuan ilmiah, entah berbentuk conference, workshop, training, atau yang lainnya. Pertemuan ini disesuaikan dengan level para akademisi yang bergabung pula. Untuk level awal, biasanya pertemuan ini menjadi ajang latihan untuk para peneliti atau student tingkat Master, seperti saya ini. Level awal ini bukan berarti kemudian bisa dengan mudah kita lalui. Tetap ada requirement tertentu, tapi setidaknya kita bisa mendapat pengalaman lebih di sini. That’s why, not so many famous people come to see this event. Tidak banyak peneliti kaliber dunia yang datang karena event ini memang dikhususkan untuk student dan para calon advisor (untuk mahasiswa doktoral).Biasanya para calon advisor ini akan melihat para siswa mempresentasikan hasil kerjanya dan akan mengajukan pertanyaan. Dari sana pula akan terjadi relasi berkelanjutan apabila kedua pihak sepakat. Relasi yang sifatnya edukatif maupun profit oriented. Anda bisa saja mendapat chance untuk extend ke PHD atau malah ditawari project dengan fee yang menggiurkan plus travelling ke negara lain. Tergantung sebrilian apa konsep yang Anda presentasikan.

Tahap yang lebih tinggi, bisa dikatakan khusus untuk advance research. Conference seperti ini biasanya akan mengambil satu tema khusus yang SANGAT SPESIFIK. Semisal, untuk bidang IT tema yang diambil adalah NETWORKING saja atau COMPUTER VISION saja. Biasanya event seperti ini cukup tinggi requirement yang diminta dan hasil riset yang masuk pun biasanya riset tingkat lanjut yang menyedot biaya dan kemampuan yang tidak sedikit. Jika Anda sudah siap dengan yang satu ini, boleh dibilang Anda sudah cukup siap untuk submit ke level yang lebih tinggi dari yang kedua ini yakni International Journal. Pada tahapan kedua ini, tokoh yang hadir biasanya peneliti terkenal, pengarang buku dan profesor yang cukup disegani. Mereka lebih berorientasi ke profit alias project berbasis research. Tapi tak sedikit pula yang ingin menjaring
murid, biasanya untuk Post Doctoral research. Nah, Anda bisa mencoba jika hasil riset Anda sudah cukup
meyakinkan.

Tahap ketiga, mungkin adalah tahap tertinggi dari jenjang normal dan formal peneliti adalah international journal. Untuk mahasiswa master tidak disyaratkan untuk yang satu ini. Namun untuk mahasiswa doktoral, biasanya minimal mereka harus submit ke satu buah jurnal ilmiah. Kualitas jurnal ilmiah ini pun bermacam-macam. Namun jelas, aturan paper formatting alias ukuran font, spasi, dan penulisan content sangat strik. Sekali Anda salah dalam grammar Anda, jangan harap paper Anda masuk di international journal. Jika Anda bisa pass, tentu ada pertimbangan lebih, terutama terkait dengan content paper Anda.

Untuk level saya, prosiding internasional untuk sementara sudah cukup. Selain lumayan sulit, duit untuk submitnya pun nggak main-main jumlahnya. Sekali kirim 350 USD keluar dari kocek. Belum untuk akomodasi, transportasi, makan minum dan yang lainnya.

No pain no gain. Kalo Anda ingin jadi peneliti, jangan lupakan modal penelitian Anda juga. Kalo Anda sudah siap lahir batin, ilmu maupun doku, bismillah…..mari melangkah lebih lanjut.

Salam hangat,

Ladkrabang 241008

Learning OpenCV - Gary Bradski & Adrian Kaehler - O’Reilly

Adventure, Image Processing, Research 3 Comments »

Learning OpenCV puts you right in the middle of the rapidly expanding field of computer vision. Written by the creators of OpenCV, the widely used free open-source library, this book introduces you to computer vision and demonstrates how you can quickly build applications that enable computers to “see” and make decisions based on the data.

Computer vision is everywhere — in security systems, manufacturing inspection systems, medical image analysis, Unmanned Aerial Vehicles, and more. It helps robot cars drive by themselves, stitches Google maps and Google Earth together, checks the pixels on your laptop’s LCD screen, and makes sure the stitches in your shirt are OK. OpenCV provides an easy-to-use

computer vision
infrastructure along with a comprehensive library containing more than 500 functions that can run vision code in real time. With Learning OpenCV, any developer or hobbyist can get up and running with the framework quickly, whether it’s to build simple or sophisticated vision applications. The book includes:

  • A thorough introduction to OpenCV

  • Getting input from cameras

  • Transforming images

  • Shape matching

  • Pattern recognition, including face detection

  • Segmenting images

  • Tracking and motion in 2 and 3 dimensions

  • Machine learning algorithms

Hands-on exercises at the end of each chapter help you absorb the concepts, and an appendix explains how to set up an OpenCV project in Visual Studio. OpenCV is written in performance optimized C/C++ code, runs on Windows, Linux, and Mac OS X, and is free for commercial and research use under a BSD license. Getting machines to see is a challenging but entertaining goal. If you’re intrigued by the possibilities, Learning OpenCV gets you started on building computer vision applications of your own.

Start Reading The Book Online (Safari Book Online) or Buy Hardprinting

Download Source Code Example from O’Reilly Site

Perbedaan skripsi S1 dan S2

Adventure, Campus Life, Research 3 Comments »

Sebagian orang, termasuk saya pasti pernah bertanya-tanya, “Apa yang membedakan skripsi S1 (bachelor) dan S2 (master) ?”

Jawabannya adalah “ide” atau “konsep” dengan menyertakan “bukti empiris”. Hal ini saya peroleh setelah belajar di KMITL kurang lebih satu semester dan berdiskusi dengan pembimbing akademik. Tingkat kerumitan research bukanlah tolok ukur sepenuhnya. Demikian pula dengan media yang digunakan, bisa jadi tidak terlalu signifikan, terutama untuk mereka yang melakukan riset berbasis simulasi (bukan pembuatan hardware). Untuk thesis S1, levelnya adalah “aplikasi” saja. Artinya, kalau kita berhasil mengimplementasikan sebuah ilmu atau teori tertentu menjadi sebuah aplikasi maka gelar sarjana sudah bisa kita dapatkan. Namun untuk S2 lain perkara. Ada dua buah hal lain yang harus kita lakukan : review paper/jurnal/karya riset orang lain dan melakukan improvement terhadap karya riset tersebut.  Ada 2 hal lain pula yang harus kita lakukan di sini : meniru/mencoba mempraktikkan karya riset orang lain dan melakukan improvement positif terhadap karya riset tersebut. Itulah yang disebut dengan riset karena riset akan selalu menghasilkan sesuatu yang berbeda meskipun kita hanya melakukan kombinasi dari metode-metode yang sudah ada. Berikut ini adalah bagan alir riset S2 :

Keterangan :
1. Penentuan tema riset dilakukan sesuai dengan : latar belakang kita, kemampuan teknis (skill) untuk meng-handle tema riset, dan keminatan
2. Untuk level S2, metode yang digunakan tidak selalu metode yang diciptakan sendiri (boleh mengambil metode dari paper lain).
3. Penulisan paper/thesis menyertakan hasil percobaan dan interpretasi dari hasil tersebut (justifikasi kita atas hipotesis). Dengan kata lain, result (hasil eksperiemen) akan membuktikan hipotesis/metodologi yang kita usulkan.

Hard Week

Adventure, Campus Life, Research 2 Comments »

Just like Mr. Yayan said before, this is the hard week. The difference is just the matter we have to do, hehe. Someone do something about food receipt and the other do about image processing experiment, filtering design, studying about another person research and use it as a part of your work. Wow….I’m still here and survive!

Somehow, that’s the way to be Mahabandit (Thai people call Master Degree as “Mahabandit”, sounds funny but it’s true !). The way is not as easy as you do in bachelor degree (you may know as “Sarjana” in Indonesian term) . Maybe, you don’t need to know your lecturer personally as far as you can study well and do your coursework assignment on time. Nevertheless, it will be a little bit different in Master course. If you are someone who choose Master by Research, you will know how hard your day in laboratory (of course for whom taking science field ! ). If you are the other one, applying Master Degree by Coursework, you are sure will be as sad as me now (actually, for this week only). You have to do your coursework while a research still be a part of your life. Whenever you have a final exam, you still feel confuse about a lot of paper waiting in the corner of your desk. Whenever your lecturer (we call Ajarn in Thai) give you an assignment, you also still be a part of your laboratory rhythm. It’s hard ! Believe me…..

Of course, life must go on. This is just a part of life rules otherwise you will spend all of your age to do what you’re not supposed to do. Right now, let the time finish all sad and change it to happiness in the end of the journey ….

Camera Ready ~

Adventure, Campus Life, Research 3 Comments »

Setelah sekian lama menunggu akhirnya pengumuman itu dikirimkan juga. Alhamdulillah, paper pertama yang saya kerjakan bersama pembimbing saya diterima di Oral Session (alias presentasi) di  ThaiBME IEEE Thailand Section. ThaiBME adalah seminar di bidang Biomedical Engineering, sebuah field baru yang mempelajari aplikasi engineering untuk bidang biomedis. Semua bidang bisa masuk dalam Biomedis apabila ia diimplementasikan untuk mendukung hal-hal yang sifatnya medis. Dalam hal ini, riset yang saya kerjakan lebih banyak berkutat pada pemrosesan citra (image processing) yang diimplementasikan di bidang biomedis. Bidang ini belum terlalu banyak dikembangkan di Indonesia, padahal di negara-negara lain bidang ini sedang menjadi topik riset yang cukup menarik. IT, elektronik, signal processing, semua diimplementasikan untuk menunjang proses medis.

Biasanya jika kita mencermati sebuah conference, kita akan mendapati beberapa hal penting seperti :

1. Due date : deadline atau batas waktu pengumpulan paper. Kita boleh mengumpulkan extended abstract atau abstract yang sudah dilengkapi dengan sebagian hasil percobaan kita.

2. Notification of Acceptance : pengumuman / pemberitahuan paper yang berhasil masuk ke conference itu.

3. Conference registration : tidak ada conference yang gratis. Conference umumnya mematok sejumlah uang sebagai biaya registrasi. Conference biasanya juga termasuk biaya makan malam (blanquet) atau malah sejumlah paket kunjungan wisata di wilayah tersebut. Jadi, conference pasti mbayar ! Untuk tarifnya, umumnya sekitar 135 - 200 USD untuk lokal. Conference internasional mematok tarif berkisar antara 250 - 400 USD. Fiuhh….. mahal ya ! Memang.

5. Camera Ready Submission : nah, tahapan ini adalah tahap akhir sebelum oral session. Kita diminta untuk men-submit ulang paper kita dengan lengkap dan sebaik mungkin, baik secara content, grammar, gambar yang kita gunakan, maupun tabel yang kita cantumkan.

6. Oral Presentation : ini adalah hari pelaksanaan conference tersebut.

Meskipun sudah men-submit satu paper, saya merasakan bahwa kosakata teknis saya sangat lemah. Ini terbukti dari kesulitan yang saya dapatkan saat menulis paper ilmiah. Tentu saya masih ingin belajar lebih banyak, terutama meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (menulis) untuk paper ilmiah dan thesis.

Bismillah…..ya Alloh, berilah kami kemudahan…..

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in